Senin, 27 Oktober 2014

Reuni: Demi Masa Lalu atau Masa Kini?

Kita, yang menyebut diri sebagai makhluk sosial, paling tidak sekali dalam setahun akan menerima selembar undangan reuni. Entah reuni SD, SMP, SMA, atau kuliah. Undangan reuni biasanya akan berdatangan pada bulan ramadhan, karena waktu favorit untuk reuni adalah pasca lebaran. Disamping karena lebaran adalah libur nasional, silaturahmi terasa afdol dilakukan di suasana lebaran. Bukankah reuni itu adalah juga silaturahmi?

Reuni, bagi sebagian orang adalah mangkok untuk menampung rindu yang sudah luber. Tapi bagi sebagian orang lainnya, reuni sedikit banyak seperti ajang perlombaan. Bagi saya, pertanyaan 'apa kabar' adalah pertanyaan paling bagus di dalam sebuah reuni. Pertanyaan ikutan setelah itu berpotensi membuat beberapa orang merasa menciut di tengah raksasa. Bayangkan perasaan seorang pengangguran, yang menggenapkan keberanian untuk datang untuk bertemu teman-temannya yang sudah sukses, ketika dia ditanya 'kerja di mana?' Pun ketika seorang jomblo ditanya 'sudah nikah?' atau bahkan lebih jleb lagi 'anak udah berapa?' 

Bagi saya, reuni adalah perihal kenangan; tentang dahulu bukan sekarang. Reuni adalah mesin waktu yang melempar kita ke saat di mana hidup terasa lebih sederhana. Bukan ajang menunjukkan kita telah sampai di mana, tapi mengingat bahwa kita pernah di sana. 

Reunion is not about what we are, it's about what we were instead.

NB: Kalau reuni, jangan ajak pasangan ya....siapa tau ketemu mantan lho, kan lumayan bisa bernostalgila hehehehe :)) ya kecuali pasangan kamu juga satu angkatan, dan kamu gak punya mantan...iya...kaya saya ...... eeerrrr 

Selasa, 14 Oktober 2014

Fiksi dalam Fiksi

“Earl Grey Tea memang tak pernah salah” gumamku seraya meneguk secangkir teh wangi yang masih meruap. Sore itu adalah kali kedua saya menikmati afternoon tea di Residenza Paolo VI, Roma. Hotel yang ada di 29 Paolo VI Street itu berlokasi sangat strategis; hanya seperlemparan batu dari Basilika Santo Petrus dan menghadap langsung ke arah Piazza Santo Petrus. Malam ini adalah malam yang cukup spesial; Basilika Santo Petrus akan menjadi perhatian jutaan umat Kristiani di dunia. Di sana akan berkumpul Kardinal dari seluruh penjuru dunia untuk menetapkan siapakah yang akan menjadi pemimpin umat Kristiani yang baru setelah Paus sebelumnya meninggal dunia karena sakit. Tapi menurut isu yang berkembang, meninggalnya Paus terlalu misterius, bahkan banyak conspiracy theorists yang berpendapat bahwa Paus bukan meninggal karena sakit, tapi karena dibunuh. Ah, begitulah teori konspirasi, selalu berada tidak jauh dari kontroversi.

Malam pun merayap, seiring rombongan orang-orang yang mulai membanjiri Piazza Santo Petrus. Beberapa van bergambar logo-logo stasiun tv ternama dunia pun terlihat berseliweran. Ya, malam ini bukan hanya orang Roma & Vatikan, namun juga jutaan pemirsa di seluruh dunia akan memusatkan perhatiannya ke Basilika Santo Petrus. Pukul 22.13, saya bersama dua teman saya berada di tengah-tengah hiruk-pikuknya Piazza Santo Petrus. Nyala lilin, juga cahaya dari telepon genggam, yang dibawa para umat Kristiani berkelap kelip, menari bersama senandung doa yang mereka lantunkan. Walau saya bukan umat Kristiani, namun pengalaman ini sungguh menggugah. Kami seperti tenggelam dalam pusaran doa-doa dan puji-pujian yang khusyuk dilantunkan. “eh menurut yang gue baca di internet, kabarnya ada empat Kardinal yang ilang lho….diculik oleh orang dari sebuah persaudaraan kuno katanya!” bisik Dito. Teman saya yang satu ini memang yang paling getol dengan segala yang berbau teori konspirasi. “Ah lu Dit, jangan sembarangan ah…apa-apa yang lu baca langsung lu percaya…… jangan-jangan lu juga percaya kalo lu baca twitternya Farhat Abbis, si pengacara itu..” timpal saya. “Enak aja…. Gue juga pilih-pilih kali mau percaya sama siapa…..,” Dito menyanggah. “Nah yang paling mengejutkan ya….empat Kardinal yang diculik itu adalah Preferiti!... lu tau gak Preferiti itu apaan?.... Preferiti itu orang-orang yang terpilih menjadi kandidat kuat Paus….” Dito masih dengan sangat antusias melanjutkan ceritanya, sedangkan saya pura-pura mendengarkan. Sementara, Dru sibuk merekam dengan telepon genggamnya, “ini momen yang belum tentu kita temui lagi seumur hidup,” ujarnya.

Jam saya menunjuk pukul 23.56, mata saya terasa lelah, “balik yuk…gue udah ngan….,” belum selesai kalimat saya, tiba-tiba terjadi keriuhan di bagian depan Piazza Santo Petrus. Semua kamera kemudian menyorot kearah gerbang Basilika. Dari dalam Basilika, keluar seseorang, setengah telanjang, dengan dada dibalut perban, kelihatan bergegas membawa sesuatu di tangannya. “ill Camerlengo!” teriak orang-orang di kerumunan. Dari tempat saya berdiri, saya hanya bisa melihat dengan jelas kejadian yang ada di depan Basilika melalui layar besar yang dipasang oleh sebuah stasiun televisi lokal untuk menyiarkan secara langsung tradisi pemilihan Paus. Orang yang disebut Camerlengo itu tampak terburu-buru berlari menuju ke sebuah helikopter yang diparkir di depan Basilika. Beberapa menit kemudian terlihat helikopter tersebut terbang, tinggi, dan semakin tinggi menembus gelapnya langit Vatikan malam itu. Helikopter terbang semakin tinggi hingga menyisakan titik hitam kecil di langit, namun, tanpa dinyana, titik hitam tersebut berubah menjadi putih, yang kemudian membesar….. semakin membesar…. Melontarkan cahaya membutakan kesegala arah. Untuk sesaat Vatikan menjadi terang seperti siang hari. Sejurus kemudian, suara gemuruh hebat terdengar, disusul dengan gelombang udara yang seperti menghempaskan diri dengan keras ke bumi, menggetarkan seluruh atap hingga lantai bangunan di sekeliling Basilika Santo Petrus. Suara itu sangat keras seperti 1.000 petasan tahun baru yang dinyalakan bersamaan. Kemudian, suasana berubah sepi, mencekam, semua orang tercekat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Helikopter yang membawa sang Camerlengo meledak di udara. Kemudian terdengar isak tangis yang lama-lama semakin keras. Semua orang bingung, tak tahu apa yang terjadi, namun mereka semua tahu bahwa ada tragedi menakutkan yang sedang terjadi. Namun, kejutan tidak berhenti di situ saja. Tiba-tiba terlihat seseorang menunjuk ke arah atap Basilika Santo Petrus. Tanpa dikomando, semua kepala serentak mendongak ke arah atap Basilika. Diantara patung-patung malaikat di atap Basilika Santo Petrus, di samping patung Yesus, berdiri tegak seorang lelaki dengan perban di dadanya, ya dia sang Camerlengo. Tiba-tiba saya merasakan dorongan yang sangat kuat dari belakang saya. Orang-orang merangsek ingin berada lebih ke depan untuk melihat kejadian yang sedang terjadi. Saya terhuyung, jatuh terjerembab. Kemudian kepala saya terasa berat, dan semua terlihat gelap….semakin gelap.


“Mas…mas bangun mas, sudah sampai di Terminal Mangkang mas…” Terasa ada yang menggoyang-goyangkan kaki saya. Dengan malas saya membuka mata yang masih terasa ngantuk. “Jam berapa ini…” gumam saya sambil mengambil telepon genggam di saku celana saya. “hhmmmm sudah jam 4 pagi…ketiduran nih gue” Segera saya beranjak berdiri dan meraih tas punggung saya di kompartemen atas tempat duduk. Gontai saya berjalan menuruni tangga bus malam yang baru saya naiki. Belum juga kaki saya menapak ke tanah, sebuah suara mengagetkan saya. “Mas…ini ketinggalan!” kata seorang kondektur sambil mengulurkan sebuah buku bertuliskan “Angels & Demons.”   


  

Senin, 06 Oktober 2014

Thrown Away Baby

“Sayang, baju seragam sepakbola aku pas SMA di mana ya?”
“Oh..itu…. dibuang, sayang….”
“kok nggak bilang aku sih….:(“
“halah, baju udah buluk gitu, udah bagus nggak aku bikin serbet…”
“tapi kan…it….”
“bawel deh….itu jemuran diangkat dulu, udah mendung!”
“i…i…iya sayang”

Sumpah, percakapan di atas bukan percakapan saya dan istri saya. Kejadian itu hanya fiktif belaka, apabila ada suami yang merasa mengalami kejadian serupa…Mas, I feel you….no not that “feel”…..I mean….ah yo wis L

 Seringkali, “dibuang sayang” bukanlah masalah bahwa barang itu masih berguna dan patut dipertahankan. Tapi, “dibuang sayang” adalah masalah kenangan.  Nggak peduli sebutut apa penampakannya, benda yang memiliki kenangan selalu punya tempat di hati, tapi belum tentu punya tempat di “dunia nyata.” Saya adalah salah satu manusia yang masih berkubang kenangan. Lihat saja, klub sepakbola kesukaan saya: Liverpool, kesukaan saya lagu jadul (hey it rhymes….).  Jarang sekali saya menyumbangkan pakaian “pantas pakai” saya, karena saya selalu berpikir bahwa pakaian itu punya nilai kenangan, entah karena itu dibeliin oleh seseorang, atau dibeli memakai uang yang sengaja saya sisihkan. Atau mungkin saya cuma pelit? Entah.  

Dulu sempat saya punya dompet yang cukup tebal, bukan karena banyak uang tapi saya isi dompet saya dengan kartu bonus dari kaset The Moffats….band remaja yang hits waktu itu. Tak peduli berapa kali dompet saya ganti, kartu-kartu itu tetap setia menghuni kompartemen dompet saya; terlalu sayang untuk dibuang. Kartu itu menemani saya hingga saya kuliah; bayangkan: anak kuliahan, laki-laki, yang di dalam dompetnya ada kartu bergambar foto-foto remaja laki-laki….. Tapi kebersamaan kami terhenti semenjak tas saya hilang. Kebetulan dompet saya ada di dalam tas itu, dan kebetulan, eh nggak kebetulan sih, kartu The Moffats itu ada di dalam dompet. 

Hilang dan rusak adalah keadaan yang memaksa saya, mau tidak mau, merelakan barang “dibuang sayang,” tapi dalam beberapa hal, saya ikhlas. Seperti contohnya, beberapa waktu lalu, saya harus melakukan yang setiap ayah harus lakukan: mengikhlaskan barang-barangnya “dirusak” oleh anaknya. Saya belajar ikhlas saat saya menemukan bahwa lightstick official yang saya beli untuk konser SNSD dulu sudah patah jadi dua….oleh Yuna, dan saya juga belajar ikhlas saat sepulang saya kerja, istri saya memberitahu bahwa kalender senbatsu official JKT48 saya sobek….juga karena ulah Yuna, sobeknya pun pas di gambar oshi saya…Beby L.



Basically, semua barang yang saya punya itu masuk kategori “dibuang sayang,” walaupun pada akhirnya ada beberapa barang yang terbuang, rusak, atau dipakai orang.  Kalau memang masih sayang, kenapa dibuang?


*thrown away baby (compound noun) dalam bahasa enggres artinya "dibuang sayang" (percaya aja deh!)